Situs Berita, Berita Terkini, Portal Berita, Berita Terhangat, Berita Terbaru, Ciputra News

Fasilitas Rawat Inap di Puskesmas Perlu Ditambah

kesehatan, rumah sakit, puskesmas, nova riyanti yusuf

Posted on 19 Feb 2013. Hits : 338

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nova Riyanti Yusuf meminta pemerintah segera memperbaiki fasilitas rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) milik pemerintah, antara lain dengan memperbanyak tempat tidur di rumah sakit, melaksanakan sistem rujukan, serta serta menambah fasilitas kesehatan di puskesmas, terutama rawat inap.

"Perbanyak tempat tidur di rumah sakit, serta perbanyak juga puskesmas yang bisa melakukan rawat inap. Sehingga rumah sakit tidak penuh dengan pasien yang sebenarnya bisa ditangani di puskesmas," kata Nova melalui pesan singkat yang diterima di Jakarta, Selasa.

Pernyataan Nova itu menanggapi pemberitaan media massa terkait kasus balita bernama Dera yang meninggal dunia setelah sebelumnya sempat ditolak oleh sejumlah rumah sakit rujukan di Jakarta karena alasan kamar penuh dan fasilitas tidak memadai.

Politisi Partai Demokrat itu mengatakan kasus tersebut seperti puncak gunung es dari permasalahan kurangnya fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Dia menilai penolakan yang dilakukan rumah sakit bukan dilandasi pasien merupakan warga miskin, sebab, menurut dia, pada kenyataannya orang yang memiliki uang juga sering menerima penolakan karena fasilitas rumah sakit tidak memadai atau kamar dan tempat tidur yang penuh.

"Menkes Nafsiah Mboi pernah menyampaikan bahwa pada tahun 2013 kita kekurangan lebih dari 80.000 tempat tidur di rumah sakit dan sekitar 1.500 dokter umum. Hal ini akan semakin parah ketika BPJS Kesehatan mulai beroperasi pada tahun 2014," ujar Nova.

Dia berpendapat sistem yang seharusnya dibangun saat ini, selain dengan memperbanyak kapasitas tempat tidur di rumah sakit pemerintah, juga dengan melaksanakan sistem rujukan yang ada.

"Dokter di rumah sakit juga manusia, saya yakin mereka juga punya hati nurani untuk tidak tega membiarkan pasien tidak dirawat apabila di rumah sakit masih tersedia tempat perawatan," ujar dia.

Dia mengatakan apabila sarana dan prasarana fasilitas pelayanan kesehatan masih jauh kurang dari kebutuhan, bukan tidak mungkin kasus penolakan rumah sakit terhadap pasien akan terjadi lagi.

Jangan ada penolakan

Sebelumnya Ketua Komisi IX DPR RI dr Ribka Tjiptaning juga mengatakan hal serupa. Menurut Ribka, pemerintah harus segera memperbanyak ketersediaan fasilitas kesehatan untuk mencegah terulangnya kasus penolakan dari rumah sakit terhadap pasien karena alasan keterbatasan sarana.

"Pemerintah melalui departemen kesehatan harus memperbanyak fasilitas kesehatan di rumah sakit. Jangan terulang lagi kasus ada anak di tolak rumah sakit rujukan karena alasan sarana terbatas atau kamar penuh," kata Ribka.

Menurut Ribka, di samping memperbanyak fasilitas kesehatan pemerintah juga harus mempermudah perizinan praktik rumah sakit swasta kelas tiga.

Selama ini, menurut dia, pemerintah masih mempersulit perizinan rumah sakit swasta kelas tiga karena dinilai tidak memiliki sarana yang cukup.

"Akibatnya seperti ini, rumah sakit besar jadi penuh, pasien ditolak. Percuma saja ada SJSN atau kartu sehat, kalau masyarakat ditolak mau berobat ke rumah sakit. Ini bisa menyebabkan terjadinya 'chaos'," ujar politisi PDIP itu.

Dia juga meminta pemerintah mempermudah sarjana kedokteran dalam melakukan praktik, tanpa melalui serangkaian uji kompetensi yang memakan waktu hingga biaya, agar kebutuhan dokter di Indonesia terpenuhi.

Saat ini, menurut dia, Indonesia hanya memiliki 80.000 dokter. Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 240 jiwa, maka diperkirakan seorang dokter harus melayani 3.500 penduduk.

"Di Kuba seorang dokter melayani 150 penduduk, sedangkan di Amerika seorang dokter melayani empat penduduk. Di luar negeri itu sarjana kedokteran dibiayai pemerintah, tapi di Indonesia sebaliknya, sarjana harus mengeluarkan uang ratusan juta," kata dia. (bn/ant)

Kabasarnas : Semangat Gotong Royong Relawan Luar Biasa

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya TNI FH Bambang Soelistyo mengatakan semangat gotong royong para relawan SAR saat mengevakuasi pendaki yang jatuh ke kawah Gunung Merapi luar biasa.

Aceh Perlu Sinergikan Perencanaan Destinasi Wisata Unggulan

Semua pemangku kepentingan agar bersinergi dalam merencanakan destinasi wisata unggulan di Provinsi Aceh, sehingga masing-masing kabupaten dan kota memiliki objek wisata yang bisa diandalkan untuk memajukan ekonomi.

Kontributor BeritaSatu Dijadikan Tersangka

Kontributor BeritaSatu TV di Ternate, Maluku Utara (Malut) Hijrah Ibrahim yang menjadi korban penganiayaan sejumlah oknum anggota Polres Ternate pada 21 Maret 2015, dijadikan tersangka dalam kasus itu oleh Polda Malut.

BPBD Lebak Minta Warga Waspadai Kebakaran Permukiman

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Provinsi Banten meminta warga mewaspadai kebakaran permukiman setelah dua pekan terakhir ini mencapai belasan rumah menjadi korban si jago merah.

PSSI : Bukan Dasar Kuat Terhindar Sanksi FIFA

Wakil Ketua Umum PSSI Erwin Dwi Budiawan mengatakan putusan sela PTUN Jakarta Timur yang menunda berlakunya Surat Keputusan (SK) Menpora terkait pembekuan terhadap PSSI bukan menjadi dasar kuat untuk terhindar dari sanksi FIFA.